indah n.n
Selasa, 01 Mei 2018
Dzalim
Dzalim adalah menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. Adapun orang yang didzalimi disebut madzlum. Do'a orang yang terdzalimi adalah mustajab. Mustajab dalam arti di sini bukan langsung dikabulkan, bisa jadi ketika sudah tua do'a tersebut baru dikabulkan, bisa jadi dikabulkannya pada anak ataupun cucu kita. Berhati-hatilah kita semua pada hal itu.
Senin, 30 April 2018
Setiap orang memiliki kisahnya sendiri-sendiri. Jangan dikira orang yang selalu tersenyum dan tertawa tak pernah memiliki kisah sedihnya. Masalahnya, apakah kita sebagai manusia memang benar-benar siap menerima takdir yang sudah digariskan oleh-Nya? Kita selalu siap menerima setiap kebahagiaan yang telah diberikan melalui garis takdir-Nya, tapi tidak sedikit pula orang yang mengeluh atas kesedihan yang diberikan oleh-Nya. Cobalah untuk tetap tegar dan tersenyum menghadapi dan mengukir kisah kehidupan ini.
Candirejo, Senin, 30 April 2018
Minggu, 29 November 2015
“Jambu Moja
Maju”
Jambu Moja Maju merupakan sebuah permainan
tradisional yang dimainkan oleh anak-anak di desa. Tidak tahu persis apa
sebutan untuk permainan ini, tapi anak-anak di desa sering menyebutnya dengan sebutan
“Jambu Moja Maju”.
Dalam permainan
ini, terdiri dari beberapa orang pemain (bebas). Setiap pemain harus meletakkan
sandal-sandal mereka untuk menjadi objek permainan. Sandal-sandal itu kemudian
diletakkan di sebuah lapangan tempat bermain, yang kemudian diberi garis
melingkar. Lingkaran itu berukuran sedang, yang sekiranya seorang pemain bisa masuk
ke dalam lingkaran tersebut.
Dalam permainan
ini juga mengenal system pingsut. Barang
siapa yang kalah, maka dirinya harus menjaga sandal-sandal tersebut di dalam
lingkaran. Bagi pemain yang tidak berada di dalam garis lingkaran, harus keluar
dari garis tersebut untuk bersiap-siap melakukan permainan.
Setelah semuanya
siap, dalam hitungan ketiga permainanpun dimulai. Para pemain yang berada di
luar garis mencoba untuk mengambil sandal-sandal yang berada di dalam lingkaran
dan Si Penjaga (yang berada di dalam garis) berusaha untuk menyentuh pemain
yang mencoba untuk mengambil sandal-sandal itu. Apabila pemain yang mencoba
mengambil sandal-sandal itu tersentuh oleh pemain jaga, maka dirinya harus
menggantikan posisi si pemain jaga, yaitu menjaga sandal-sandal itu di dalam
garis lingkaran, dan begitulah seterusnya.
Permainan tersebut
mengajarkan kita tentang solidaritas, mendidik jiwa pemberani, sabar atau
lapang dada, dan yang terpenting adalah jiwa kekompakan yang menjadi inti dari
permainan tersebut.
Selasa, 22 September 2015
Sabtu, 08 Agustus 2015
RESENSI “THE POWER OF WRITING”
Oleh : Indah Nurnafi’ah
Judul : The Power of Writing
Penulis : Ngainun Naim
Penerbit : Lentera Kreasindo
Halaman : xiv + 230 hlm
Cetakan : ke 2, Juli 2015
ISBN : 978-602-1090-14-5
Buku
yang berjudul The Power of Writing yang
ditulis oleh Ngaiun Naim ini merupakan suatu buku pencerah untuk menuju
perubahan yang lebih baik dalam hal tulis menulis. Buku ini menyebarkan
semangat yang menggebu-gebu untuk menulis. Dimanapun, kapanpun, dan dalam
keadaan bagaimanapun kita dituntut untuk selalu menulis.
Sebenarnya,
tidak ada yang tidak bisa menulis. Semua orang memiliki potensi untuk menulis.
Tinggal bagaimana mereka mengembangkan potensi mereka. Seorang pelajar dan
mahasiswapun selalu dituntut untuk menulis. Untuk itu, mereka harus mengasah
potensi mereka dalam hal tulis menulis, jangan pernah menunda untuk belajar
menulis.
Kunci
dari kesuksesan menulis adalah menulis itu sendiri. Menulis, menulis, dan
menulis setiap hari akan meningkatkan potensi menulis seseorang. Semua orang sangat
dianjurkan untuk menulis, karena menulis dapat dapat mengubah hidup seseorang.
Selain menulis, membaca juga memiliki energi besar untuk mengubah hidup
seseorang. Menbaca dan menulis adalah
sarana untuk menambah wawasan, pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan untuk
meningkatkan kualitas dan kapasitas diri.
Banyak
sekali kelebihan dari buku ini, salah satunya buku ini ditulis berdasarkan
pengalaman pribadi sang penulis dan bukan hanya angan-angan penulis semata.
Hampir
tidak ada kelemahan dalam buku ini, karena penulis menggunakan bahasa
sehari-hari yang sangat mudah dipahami baik untuk para pelajar, mahasiswa,
maupun orang-orang awam.
Langganan:
Postingan (Atom)
